Agenda Utama


Dalam kondisi PSBB seperti sekarang, akankah ada agenda normal seperti pembahasan sebelum ini jadi terhalang?

Kalau ada yang bergeser, ya. Kalau hilang, sepertinya tidak. Apalagi esensinya.

Fiqh Agenda Ramadhan

Perintah amalan apa yang harus dilakukan di bulan Ramadhan?

Cuma satu: PUASA.

Kita lihat ayatnya lagi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah 2: 183)

Jadi agenda utama Ramadhan adalah PUASA.

Puasa sama sekali tidak terganggu dengan kondisi kita sekarang, bahkan hemat penulis, barangkali puasanya akan lebih baik.

Target pendidikan puasa atau bulan puasa agar orang menjadi Bertaqwa, sepertinya akan lebih banyak yang gapai.

Kenapa? Karena kita akan lebih matang. Orang yang ditimpa ujian dan cobaan, jika dia lulus maka nilainya akan sempurna.

Oleh sebab itu, ayo jangan kalah. Hadapi cobaan ini dengan tabah dan ketawakkalan yang lebih. Rasanya kita bisa dan pasti bisa.

Jika boleh menukil satu sabda Rasulullah saw maka selesai membacanya, kita akan tersenyum dan berkata: Kita lagi disayang Allah swt, kita akan keluar sebagai pemenang, dan kita akan hidup lebih baik lagi usai wabah ini.

Hadis yang berisi kabar gembira di sela-sela kesedihan itu adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ :

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.

رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد

Dari Anas ibn Mali, dari Rasulullah saw beliau bersabda:

Besarannya pahala sama dengan besarannya cobaan. Sesungguhnya Allah jika mencintai sesuatu kaum maka dia akan menguji mereka dengan bala. Maka barangsiapa ridho, maka baginya Ridho Allah. Dan barangsiapa marah, maka baginya juga amarah.

Hadis lain yang mirip adalah sabda Rasulullah saw:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ، حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى.

رواه أبو داود وأحمد

Sesungguhnya seorang hamba jika sudah ditakdirkan berada di posisi puncak tertentu namun pada saat itu amalannya belum membawanya berada di posisi itu, maka Allah akan menguji dia dengan musibah pada tubuhnya, atau hartanya atau keluarganya. Lalu Allah kuatkan dia dengan kesabaran, dia lulus dan diapun sampai kepada puncak kedudukan yang Allah sudah takdirkan.

Dua hadis di atas, jika kita mau tarik ke kondisi kita sekarang, baik secara pribadi maupun bangsa, dapat dijadikan fase persiapan meloncat ke posisi yang lebih tinggi. Syaratnya adalah: Hadapi dengan sabar, tawakkal, sambil terus mencari salusi dan terobosan baru.

Kita tahu bahwa banyak orang sukses setelah dia jatuh, bahkan jatuhnya berkali-kali. Dan tidak asing buat kita pribahasa yang berbunyi: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Bagaimana dengan Tarawih ?

Tarawih dan tadarus tidak wajib. Dilakukan boleh dan tidak juga boleh.

Tarawih dan tadarus sama sekali tidak terhalang dengan kondisi ini. Yang bergeser adalah tempatnya. Tarawih biasanya di Masjid, kali ini di rumah. Tadarus biasanya separuh di Masjid dan separuh di rumah, sekarang pindah semuanya di rumah.

 


  • Sunan al-Tirmizi, hadis no. 2320; Sunan Ibn Majah, hadis no. 4021; dan Musnad Ahmad, hadis no. 22517.
  • Sunan Abu Daud, hadis no. 2686; dan Musnad Ahmad, hadis no. 21306