Allah itu Maha Memaklumi Kondisi Hamba-hamba-Nya


Allah swt itu Maha Mengetahui. Ini kaidah dasar dan berlaku umum dan dalam, bahkan sangat dalam.

Artinya, Allah swt tau kondisi setiap orang, baik secara fisik, maupun psikis. Begitu juga kondisi lingkungan, mulai dari cuaca, keamanan, kenyamanan dan kesehatan.

Jangan coba-coba bilang sakit padahal sehat. Jangan coba-coba bilang hujan deras, padahal deras sebentar tapi sudah berhenti. Jangan bilang tidak punya uang, tapi dolar simpanan masih banyak. Jangan bilang Masjidnya jauh, padahal setiap hari dilewati untuk sampai ke kantor atau ke mall.

Begitu juga halnya dengan kondisi PSBB ini. Kita diminta untuk shalat di rumah, tidak di Masjid dengan alasan menghindari perkumpulan yang mengakibatkan penularan.

Bagi yang taat dan dia shalat di rumah dengan rasa di hati, ya Allah saya ingin sekali ke Masjid, namun kondisinya seperti ini, maka saya jadi shalat di rumah …. In sya Allah, penulis yakin sekali, pahala yang diperoleh orang ini SAMA DENGAN kalau dia pergi ke Masjid dan shalat jamaah di sana.

Mana dalilnya ?

Di bab sebelum dan sesudah ini, banyak contoh yang sudah/akan penulis berikan. Di bab ini penulis akan angkat cerita sahabat Nabi Khalid ibn Walid. Panglima perang yang sudah mengikuti puluhan perang, baik di zaman Rasulullah saw, maupun di zaman khalifah-khalifah setelahnya. Dalam tubuhnya, tidak ada sejengkal bagian badannya kecuali ada bekas luka akibat perang.

Beliau, meninggal di atas tempat tidur. Betapa sedihnya beliau karena mengharap mati syahid. Sebelum meninggal, seorang sahabat Nabi menjenguk beliau dan mengabarkan kabar yang membuat beliau tersenyum. Sahabat ini mendengar Rasulullah saw pernah bersabda:

 مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ .

رواه مسلم

Barangsiapa memohon kepada Allah mati syahid dengan jujur, maka Allah akan sampaikan derajat Syuhada, walau dia meninggal di atas kasurnya.

 

Yang lebih dahsyat lagi adalah sabada Rasulullah saw:

Satu dirham, mengalahkan seratus ribu dirham.

Lah kok bisa ?

Kekagetan dan keheranan itu bukan hanya datang dari kita, akan tetapi juga dari para sahabat. Karena itu mereka meminta Rasulullah saw menjelaskan rasionalitasnya.

Rasulullah saw menjelaskan dengan enteng dengan bersabda:

Yang sedekah 100 ribu dia masih memiliki simpanan di rumah dalam jumlah puluhan kali lipat. Sedangkan yang sedekah hanya 1 dirham, dia hanya memiliki uang 2 dirham. Walhasil, dia sudah menginfakkan 50 % hartanya, sedangkan yang 100 ribu dia hanya menginfakkan 5 % dari hartanya. Karena itu 50 % lebih banyak dari 5 %.

Dari hadis ini kita jadi paham, bahwa Allah swt tidak selalu menilai sesuatu dari jumlah, akan tetapi lebih sering melihatnya dari sisi nilai.

Ini teks hadisnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

 سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، قَالُوا: وَكَيْفَ ؟. قَالَ: كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا.

 وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا.

رواه النسائي وأحمد

Cerita Rasulullah saw tentang orang yang ingin bersedekah lillahi ta’ala, namun dia salah ngasi orang. Kesalahan ini berulang sampai 3 x. Sekali kepada orang kaya, sekali kepada pelacur dan sekali lagi kepada pencuri. Namun kesalahan ini dimaklumi oleh Allah swt dan sedekahnya tetap diterima dengan pahala penuh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

قَالَ رَجُلٌ: لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ. فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ. فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ، فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ. فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ: أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ، وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا، وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ.

متفق عليه

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

Ada seorang laki-laki, dia berkata: Aku pasti akan bersedekah. Lalu dia keluar dengan membawa sedekahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan sedekahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata: Ya Allah segala puji bagi-Mu, aku pasti akan bersedekah lagi.

Kemudian dia keluar dengan membawa sedekahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan sedekahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagi-Mu, (ternyata sedekahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bersedekah lagi.

Kemudian dia keluar lagi dengan membawa sedekahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan sedekahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata: Ya Allah segala puji bagi-Mu, (ternyata sedekahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina dan orang kaya.

Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: Adapun sedekah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan sedekah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan sedekah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah swt kepadanya.

Tiga cerita di atas, jika kita ingin tarik ke kondisi sekarang, maka akan banyak makna yang didapat. Shalatnya kita di rumah, tetap mendapat nilai lebih atau sama dengan shalat kita di Masjid. Tarawih kita di rumah, akan sama nilainya dengan terawih kita di Masjid. Bahkan .. shalat Zuhurnya kita di rumah pada hari Jum’at sama pahalanya dengan Jum’atan kita di bulan-bulan lalu.

Allah Maha Pemurah, Allah Maha Kaya, Allah Maha Mengetahui kondisi setiap hamba-Nya. Jadi, tetap tambatkan hati kita dengan Masjid, walau shalat-shalat kita di masa-masa wabah ini kita laksanakan di rumah.


  • Sahih Muslim, hadis no. 3532; Sunan al-Tirmizi, hadis no. 1577; dan Sunan al-Nasa’i, hadis no. 3111.
  • Sunan al-Nasa’i, hadis no. 2480-2481; dan Musnad Ahmad, hadis no. 8573.
  • Sahih al-Bukhari, hadis no. 1332; dan Sahih Muslim, hadis no. 1698.