Luruskan Niat, Puncak itu Akan Kita Gapai Juga


Luruskan niat ?

Ada apa dengan niat, kok bisa ambil posisi penting di sini ?

Ketahuilah, ulama menyimpulkan hadis yang sangat populer itu “ ِإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّات ” ( Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya). Sebagai ½ ilmu, atau permasalah fiqh. Ada juga yang mengatakan 1/3 ilmu.

Implementasinya, Rasulullah saw banyak sekali memberikan contoh niat itu bisa mengantarkan orang sampai ke level puncak, walaupun posisi real dia masih di tengah.

Contoh:

1. Orang yang duduk di rumahnya, terbaring sakit, tetap mendapatkan pahala yang sama, dengan orang yang mengarungi lembah dan bukit, juga mengayunkan pedang dalam peperangan.

Bayangkan, capeknya luar biasa berjalan ratusan kilometer dengan taruhan nyawa, itu mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang duduk atau terbaring tidur di rumah.

Faktor apa yang menyamakan pahala dua orang yang berbeda ini ? Jawabnya: Niat. Orang yang terbaring di rumah karena sakit, sudah berniat akan pergi bersama ke Medan perang dengan jiwa raga dan harta. Namun Allah swt tahan dia dengan sakit yang menghalangi langkahnya.

Mana dalil sandarannya.

Penulis punya beberapa dalil yang bermaknakan sama.

وعَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ، فَقَالَ :

إِنَّ بالْمَدِيْنَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيْراً، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً، إلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ .

وَفِي رِوَايَةٍ : إلاَّ شَرَكُوكُمْ فِي الأَجْرِ .

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Abdillah Jabir Ibn Abdullah al-Anshari ra, dia berkata: Kita berada beserta Nabi saw dalam suatu peperangan, yaitu perang Tabuk kemudian Beliau saw bersabda:

Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu. Mereka itu terhalang oleh sakit.

Dalam suatu riwayat: Melainkan mereka ikut bersama kalian dalam memperoleh pahalanya.

2. Niat yang benar, tetap akan mendapatkan pahala amalan tersebut, walau ada kekeliruan di pelaksanaannya.

Dikisahkan di zaman Rasulullah saw seorang bapak bersedekah lalu menaruh uangnya di tempat yang biasa orang meletakkan sedekahnya untuk diambil oleh kaum dhuafa. Akan tetapi kali ini yang mengambil sedekah bapak ini adalah anak kandungnya sendiri. Si anak mengambil karena merasa miskin karena itu boleh dong.

Ributlah bapak dan anak lalu mengadukan perkara ini ke Rasulullah saw. Baginda dengan senyum membenarkan kedua-duanya, yang sedekah dapat pahala, yang mengambil dapat uangnya dan halal karena dia miskin.

Ini hadis lengkapnya:

وَعَنْ أَبِيْ يَزِيْدَ مَعْنِ بْنِ يَزِيْدَ بْنِ الْأَخْنَسِ رَضِيَ اللّه عَنْهُمْ، وَهُوَ وَأَبُوهُ وَجَدُّهُ صَحَابِيُّوْنَ، قَالَ : كَانَ أَبِي يَزِيْدُ أَخْرَجَ دَنَانِيْرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا، فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَجِئْتُ فَأَخَذْتُهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا . فَقَالَ : وَاللّهِ، مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ، فَخَاصَمْتُهُ إِلَى رَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فقَالَ :

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيْدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ .

رَوَاهُ البُخَارِيّ

Dari Abu Yazid yaitu Ma’an Ibn Yazid Ibn Akhnas ra. Ia, ayahnya dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua. Ma’an, dia berkata: Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar sebagai sedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan di sudut Masjid. Akupun datang lalu mengambilnya, kemudian aku menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi. Ayah berkata: Demi Allah, bukan engkau yang aku kehendaki untuk diberi sedekah itu. Selanjutnya hal itu aku adukan kepada Rasulullah saw lalu beliau bersabda:

Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid yakni bahwa engkau telah memperoleh pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma’an yakni bahwa engkau boleh memiliki dinar-dinar tersebut.

(HR. al-Bukhari)

 

 


  • Hadis sahih, diriwayatkan Muslim, hadis no. 3534 dari Jabir. Hadis ini juga diriwayatkan dari Anas oleh al-Bukhari, hadis no. 2627.
  • Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 1333. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, hadis no. 15299 dan 17559; dan al-Darimi, hadis no. 1582.