Pahala itu Ada di Mana-mana


Disadari atau tidak, ada stigma yang salah menempel kuat di kepala sebagian besar ummat Islam, akibatnya, Islam dipahami secara sempit dan dia tanpa sadar sudah melaksanakan apa yang sebenarnya bukan disarankan oleh Islam.

Banyak dari mereka yang belum tau bahwa ISLAM SANGAT MENGERTI dan MENGAKOMODIR SIKON, hukum Islam banyak ditentukan setelah melihat situasi dan kondisi si pelaksana. Sampai-sampai ada kaidah ushul fiqh: Hukum itu berputar/bergeser bersama illatnya (الحكم يدور مع علته). Illat itu sendiri sering kali nempel dengan SIKON.

Contoh simpel: Menikah itu hukum dasarnya adalah SUNNAH. Dalam bahasa umumnya, SUNNAH RASUL.

Akan tetapi, hukum sunnahnya nikah, mudah berubah pada kondisi tertentu. Seseorang bisa difatwakan oleh seorang ulama, bahwa hukum nikah buat dia adalah WAJIB. Sedangkan seorang yang lain bertanya, mungkin fatwa ulama yang sama akan mengatakan: Hukum nikah buat dia HARAM.

Ada tiga nilai hukum berbeda dalam contoh yang simpel tadi, alasan utamanya adalah KONDISI.

Buat orang yang punya penyakit menular yang berbahaya, maka menikah buat dia haram. Buat orang yang sehat, persyaratan lainnya juga ok, namun punya catatan nafsu syahwatnya sulit dikendalikan, maka hukum nikah buat dia adalah wajib. Sedangkan hukum SUNNAH nya, diberikan kepada mereka yang kondisinya normal.

Contoh lain :

Tiga orang yang akan melaksanakan shalat berjamaah di Masjid. Hukum dan tatacara shalat buat mereka BISA BERBEDA. Mulai siapa yang menjadi imam, lalu cara shalat berdiri atau duduk, sampai wiridan yang sebaiknya dilakukan setelah shalat dst. Ketika ada yang shalatnya duduk dengan alasan sakit, maka shaff jadi sedikit berbeda.

Islam, dengan mudah menjawab perbedaan-perbedaan di atas. Jawabannya sudah selesai tersusun rapi dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh. Beberapa diantaranya akan penulis paparkan nanti.

Lalu bagaimana pahalanya ?

Shalat di Masjid kan pahalanya lebih besar daripada shalat di rumah, 27 kali lipat lagi.

Pertanyaanya, pahala 27 kali lipat itu untuk shalat di Masjid atau shalat berjamaah? Semua teks hadis yang ada dan sangat populer itu kan shalat berjamaah.

Boleh tidak orang shalat berjamaah di rumah? Semua ulama mengatakan boleh dan sah.

Tapi di Masjid kan lebih afdhal, lebih khusu’.

Tidak selamanya afdhal itu yang kita pilih. Dan tidak selamanya afdhal itu tetap afdhal. Bahkan sebaliknya, yang terbaik adalah melakukan kebalikannya.

Contoh:

Bacaan al-Qur’annya orang yang shalat subuh adalah agak panjang. Rekomendasi ulama, sekitar 30 an ayat dalam satu rakaat. Untuk shalat Maghrib, sarannya cukup yang pendek, 3-15 ayat. Ini dalam kondisi normal.

Kasusnya, jika orang melakukan shalat jamaah Subuh di airport, layakkah pak imam untuk baca 30 ayat di rakaat pertama dan 30 ayat di rakaat kedua? Semua ulama pasti menyarankan kepadanya untuk membaca 5-7 ayat saja setiap rakaatnya. Kenapa? Bukankah yang afdhal itu surat-surat yang agak panjang, bukan yang pendek? Jawabnya adalah kondisi. Di airport sebagian besar orang yang shalat di sana adalah orang yang waktunya terbatas. Mereka sedang menunggu penerbangan yang tinggal beberapa menit.

Pertanyaan lanjutannya, apakah imam memilih 7 ayat ini pahalanya kurang dibanding dengan kalau dia membaca 30 ayat? Tidak. Justru dia akan berdosa kalau sengaja membaca 30 an ayat dalam kondisi seperti itu. Dan penulis yakin, 7 ayat yang dibaca pahalanya lebih besar dibanding dengan kalau dia membaca 30 ayat.

Logikanya, ketika dia membaca surat yang agak panjang, sebagian atau mayoritas jamaah gelisah, takut kalau ketinggalan pesawat, maka sebagian besar jamaah melakukan shalat dengan tidak khusu’. Jika dia benar-benar terlambat naik pesawat dan ditinggal pesawat, apa yang terjadi. Dia akan mencaci maki imam yang bacaannya kelamaan.

Konsep Pahala

Sumber pahala adalah kebaikan. Semua kebaikan akan menghasilkan pahala. Nah kebaikan itu ada di mana, berbuat baik itu bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Tentu bahasan ini kita batasi pelakunya adalah muslim.

Dalam beberapa hal, Rasulullah saw. mengutip Hadis Qudsi ini :ٍ

ٍالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا. وَفِي رِوَايَةٍ إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْف

Kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat. Dalam riwayat lain: Sampai tujuh ratus kali lipat.

Soal besarannya, ada kaidah yang berbunyi: Besaran pahala itu sesuai dengan tingkat kesulitan yang dihadapi. Lihat dasar kaidah ini di hadis cerita Aisyah ra yang pergi haji mendapat hambatan haid. Ada juga ulama yang mengatakan kaidah ketiga soal pahala: Besaran pahala itu sesuai dengan besaran manfaatnya. Hadis “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang bermanfaat buat orang lain” menjadi dalilnya.

Jika itu konsep dasarnya, bukankah shalat di Masjid itu lebih baik daripada shalat di rumah ?

Jika logika itu yang dipaksakan, kenapa kita tidak tarik ke yang lebih besar lagi saja, yaitu: Sekali saja, kenapa nggak shalat di Masjid Haram saja, jangan shalat di Masjid sebelah rumah, pahalanya 27 kali lipat saja, sedangkan di Masjid Haram kan pahalanya 100.000 kali lipat.

Jawaban logika yang lompat itu mudahkan ? Saya orang Betawi, kampung saya di sini, Masjid saya itu, tidak mungkinlah saya shalat di Masjid Haram.

Jawaban yang tepat. Intinya adalah adanya keterbatasan, adanya kondisi yang berbeda. Begitu halnya dengan kondisi sekarang. Shalat di Masjid dalam situasi wabah berbahaya, bisa tertular atau menularkan. Islam melarang orang membahayakan orang lain atau dirinya sendiri.

Hadis yang menjadi kaidah Ushul Fiqh ini sangat populer:

َلاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَار

Tidak boleh melakukan hal barbahaya atau membahayakan.

Penulis ingat semasih ngaji Fiqh dan Ushul Fiqh bersama Syeikh Prof. DR. Sa’id Ramadhan al-Buthi, kami diberikan contoh simpel sebagai aplikasi realis di tengah kehidupan masyarakat sekarang, kata beliau: Orang yang keringatnya/badannya bau yang menyengat dan pasti akan mengganggu orang di sekitarnya, bila dia tidak sempat mandi sebelum pergi Jum’atan, atau menggunakan wewangian untuk menghilangkan bau yang mengganggu itu, maka orang ini DILARANG PERGI JUM’ATAN. Buat dia, cukup shalat Zuhur. Lalu ketika dia ngotot tetap Jum’atan, maka dosa yang dia akan dapati lebih besar dari pahala yang mungkin dia peroleh. Karena, berapa banyak orang yang akan terganggu dengan bau yang tak sedap itu.

Nah, kaitannya dengan kondisi kita sekarang. Apa yang biasa kita lakukan bersama di Masjid, baik itu shalat, pengajian ataupun berbuka puasa, lalu saat ini kita melakukannya di rumah, penulis yakin, nilainya akan lebih besar dibanding kita memaksakannya di Masjid.

Satu dalil lain yang mengisyaratkan bahwa pahala itu ada di mana-mana dan sangat gamblang tamtsil yang Rasulullah saw gambarkan, adalah:

عَنْ أَبِي ذَر رضي الله عنه قال: أَنَّ نَاسًاقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ، يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّى، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهم. قال

أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ بِهِ : إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيْدَّةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنْ المُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ، وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ :

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .

رواه مسلم

Dari Abu Zarr pula, bahwa orang-orang sama, dia berkata: Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan membawa pahala yang banyak karena banyak pula amalannya. Mereka itu bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Rasulullah saw bersabda:

Bukankah Allah swt telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan ? Sesungguhnya dalam setiap tasbih ada sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang kemungkaran itupun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seseorang dari kalian itupun sedekah.

Para sahabat, dia berkata: Ya Rasulullah apakah seseorang dari kita yang mendatangi syahwatnya itu juga memperoleh pahala ? Beliau saw bersabda:

Bagaimana jika syahwat itu diletakkannya dalam sesuatu yang haram, bukankah orang itu memperoleh dosa ? Maka demikian itu pulalah jika ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, ia pun memperoleh pahala.

(HR. Muslim)

Untuk menguatkan hal ini, alangkah baiknya jika kita semua mengadukan hal ini kepada Allah swt (meski Allah swt sudah lebih tau) dengan berkata: Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui, betapa hati ini ingin sekali melangkahkan kaki ini ke Masjid untuk melaksanakan hal-hal yang biasa kami lakukan, namun kondisinya Engkau tahu, hamba-Mu terpaksa melakukannya di rumah. Ya Allah terimalah semua amal ibadah kami selama Ramadhan ini dengan segala kekurangan dan kekhilafannya.

Yakin seyakin-yakinnya, Allah swt akan memberikan pahala yang sama besar atau lebih besar daripada kita melakukannya di Masjid.

————

  • Lihat Sahih al-Bukhari, hadis no. 1761; Muslim, hadis no 1962; dan Sunan al-Tirmizi, hadis no 695.
  • Hadis tentang Haji nya Aisyah radhiyallahu anha di sahih al-Bukhari, hadis no. 1662; dan Sahih Muslim, hadis no. 2120.
  • Hadis tentang manusia yang paling dicintai Allah swt, Hadis hasan diriwayatkan oleh al-Tabarani, hadis no. 6026.
  • Sunan Ibn Majah, hadis no. 2331; Muwattha’ Malik, hadis no. 1234; danMusnad Ahmad, hadis no. 1234.
  • Hadis sahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadis no. 1674; Abu Daud, hadis no. 1286; Ibn Majah, hadis no. 917; Ahmad, hadis no. 20457, 20496 dan 20508 dan 20568; dan al-Darimi, hadis no. 1319.