Puasa, Sahur dan Buka


Puasa

Puasa menjadi agenda utama kita selama Ramadhan, pembahasannya sudah panjang lebar di bab sebelum ini. Penulis sengaja tidak mengulanginya, tinggal klik tema sebelum ini.

 

Sahur 

Hukum sahur sunnah, dikerjakan baik, tidak sahur juga tidak masalah. Akan tetapi Rasulullah saw menegaskan bahwa sahur itu baik dan lebih baik kalau kita kerjakan. Beliau bersabda:

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

متفق عليه

Sahurlah kalian, karena di sahur itu ada barokah.

Lewat pesan dan saran di atas, sudah selayaknya selama Ramadhan ini kita sahur. Minimal sahur adalah minum seteguk air atau segelas air. Jika ada kurma silahkan dimakan, jika ada nasi padang, silahkan sahur dengan makanan khas itu.

Ketika sahur, jangan lupa untuk niat puasa bagi yang belum niat setelah shalat tarawih. Bagi yang sudah maka tidak perlu mengulang. Kalau banyak yang dimakan, tolong diingat JANGAN BERLEBIHAN. Kalau lauknya lebih, silahkan berbagi. Masa-masa seperti ini banyak sekali saudara-saudara kita yang butuh bantuan.

 

Buka Puasa

Beda dengan sahur yang hukumnya sunnah, kalau berbuka puasa hukumnya wajib. Meneguk satu teguk air, atau memakan sepotong kueh atau kurma, maka sudah sah berbukanya. Kalau kolak dan timun surinya, itu mubah atau bisa jadi juga mustahab. Begitu juga dengan nasi plus sayur asem ikan bandeng. Semua itu boleh, mubah.

Yang jelas, tahun ini kita belajar berbuka dengan makan yang lebih sederhana. Nah sederhana inilah sebenarnya sunnahnya Rasulullah saw. Bertahun-tahun penulis melihat fenomena berbuka puasa di tanah air, khususnya di Jakarta, dalam hal makanannya terkesan berlebihan. Banyak istilah-istilah yang salah muncul di acara buka puasa. Seperti kata-kata “balas dendam”, “mumpung boleh” dll yang sebenarnya sudah bergeser dari koridor Islam. Banyak para ahli yang juga mempertanyakan, acara puasa kok pengeluaran konsumtifnya lebih besar dari bulan lainnya. Logikanya, di bulan puasa itu pengeluaran untuk makan lebih kecil dari bulan-bulan lainnya, yang besar adalah pengeluaran untuk zakat dan sedekah.

Ini kesempatan. Ayo kita berbuka dengan dua sampai tiga lauk saja. Minumnya cukup 2 rupa. air putih dan satu lagi tinggal pilih, teh manis, atau kopi, atau sirop dst. In sya Allah puasa kita lebih afdhol.

Jangan lupa, sisihkan uang kita untuk “IKUT MEMBIAYAI BUKA PUASA KAUM DHU’AFA”.  Paket 1 porsinya ada yang Rp 20 rb. Penulis hampir setiap ceramah Ramadhan selalu menyisipkan ajakan untuk ikut membagi makan buat buka puasa orang lain. Alasan penulis sederhana dan sangat kuat.

Semua ulama sepakat kalau pahala puasa itu besar. Allah swt sendiri yang akan membalasnya, kalau sudah Allah yang Maha Kaya bilang seperti itu pasti besar sekali. Nah kita ingin dapat bonus kelipatan? ya caranya adalah kasih orang makan untuk berbuka. Ingin 2 x lipat, ya kasih ke 2 orang. Ingin 100 x lipat, ya kasih buka puasa ke 100 orang. Di musim resesi ekonomi ini, pahalanya pasti lebih besar.

Dalilnya mana ? Ini hadisnya:

عَنْ أََبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللُه عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

قَالُّ اللُه عَزَّ وَجَلَّ : كُلُّ عَمَلِِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإِِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أََحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أََحَدٌ أََوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ . وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيْحِ المِسْكِ .لِلصَّائِمِ فَِرْحَتََانِ يَفْرَحُهُمَا : إِِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بفِطْرِهِ، وَإِذَا لََقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ .

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

Allah ‘Azzawajalla berfirman dalam Hadis qudsi:

Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Jika seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan buruk. Jika seorang memakinya atau memancingnya untuk bertengkar, hendaklah ia mengatakan, Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, bagi Allah, bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum daripada bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa mengalami dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu Tuhan nya karena puasanya.

 

عَنْ زَيدِ بنِ خُالدٍ الجُهَنِيِّ رَضِيَ اللُه عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً، كَانَ لََهُ مِثْلُ أََجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٍ .

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

 

Dari Zaid Ibn Khalid al-Zuhani ra, dari Nabi saw yang bersabda:

Barangsiapa memberi makan buka kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh seperti pahala orang yang berpuasa tadi tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa itu.

(HR. al-Tirmizi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan sahih)

Ingin tahu lebih detail lagi. Penulis punya aplikasi di playstor dan web. Gratis, silahkan downloud atau buka link ini: https://selangkahlagiandamasuksurga.com/index.php/kajian/subtema/8 .

 

——

  • Sahih oleh al-Bukhari, hadis no.1789; dan Muslim, hadis no. 1835.
  • Sahih oleh al-Bukhari, hadis no. 1761 dan 1771; dan Sahih Muslim, hadis no. 1941-1946.
  • Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Tirmizi, hadis no. 735; Ibn Majah, hadis no. 1736; Ahmad, hadis no. 16416 dan 20687; dan al-Darimi, hadis no. 1640.